SUKA:  
BAGIKAN:  

Melampaui Iman yang Buta

Benarkah Yesus adalah Tuhan? Inilah beberapa fakta dari kehidupan Yesus Kristus dan mengapa mempercayai Dia bukanlah iman yang buta...

Oleh: Paul E. Little

Mustahil bagi kita menentukan apakah Tuhan ada atau tidak dan seperti apakah Tuhan itu sampai Dia sendiri yang berinisiatif dan mengungkap DiriNya. Kita harus tahu Tuhan itu seperti apa dan bagaimana sikapNya terhadap kita. Andaikan kita tahu bahwa Dia ada, namun Dia seperti Adolf Hitler--plin-plan, keji, berprasangka, dan kejam. Betapa kenyataan akan sungguh menjadi mengerikan!

Kita harus menjelajahi khazanah sejarah untuk mencari petunjuk dari pewahyuan Tuhan. Ada satu petunjuk yang jelas. Di suatu desa yang tidak dikenal di Palestina, hampir 2000 tahun yang lalu, seorang Anak telah lahir di sebuah kandang. Sampai sekarang seluruh dunia masih merayakan hari kelahiran Yesus.

KehidupanNya tidak dikenal samapi Dia berusia 30 tahun, dan memulai pelayanan umumnya yang berlangsung sampai 3 tahun. Semua itu ditakdirkan untuk mengubag jalannya sejarah. Dia adalah seorang yang ramah, dan kita tahu bahwa "rakyat jelata mendengarkanNya dengan senang hati". Dan, "Dia mengajar sebagai Seorang yang berkuasa, dan bukan seperti ahli-ahli Taurat mereka" (Matius 7:29)

Kehidupan Yesus Kristus. Apakah Yesus adalah Tuhan?

Segera menjadi suatu hal yang nyata bahwa Dia membuat pernyatan-pernyataan yang mengejutkan tentang diriNya. Dia mulai mengidentifikasikan diriNya jauh lebih dari seorang guru atau nabi yang hebat. Dia mulai berkata dengan jelas bahwa Dia adalah Tuhan. Dia membuat identitasnya ini sebagai bagian terpenting dari pengajaranNya. Pertanyaan terpenting yang Dia tanyakan kepada semua orang yang mengikuti Dia adalah "Menurutmu, siapakah Aku ini?" Ketika Petrus menjawab "Engkau adalah Kristus, Putra Allah yang hidup" (Matius 16:15-16), Yesus tidak terkejut maupun memarahi Petrus. Sebaliknya, Dia menghargainya.

Dia secara eksplisit membuat klaim itu, dan pendengarNya mendapat pengaruh penuh atas kata-kataNya. Kita tahu "Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah. (Yohanes 5:18)

Pada suatu kesempatan lain Dia berkata "Aku dan Bapaku adalah Satu". Segera saja orang-orang Yahudi ingin melempariNya dengan batu. Dia bertanya pada mereka pekerjaan baik manakah yang membuat mereka ingin membunuhNya. Jawab orang-orang Yahudi itu: "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah" (Yohanes 10:33)

Yesus dengan jelas memiliki sifat-sifat yang hanya dimiliki oleh Tuhan. Ketika seorang yang lumpuh diturunkan dari atap agar disembuhkanNya, Dia berkata, "anak, dosamu sudah diampuni" Hal ini menyebabkan pertentangan diantara para pemimpin agama, yang berkata dalam hatinya "Mengapa orang ini berkata seperti itu? Dia adalah seorang penghujat! Siapakah yang dapat mengampuni dosa-dosa selain dari Allah sendiri?"

Pada momen kritis ketika hidupNya dipertaruhkan, Imam Besar bertanya langsung kepadaNya ""Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?"

"Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit"

Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: "Untuk apa kita perlu saksi lagi Kamu sudah mendengar hujat-Nya terhadap Allah" (Markus 14:61-64)

Betapa dekat hubungannya dengan Tuhan sehingga Dia menyamakan sikap dan tindakan seseorang kepada diriNya dengan sikap orang terhadap Tuhan. Demikianlah, barangsiapa mengenal Dia telah mengenal Tuhan(Yohanes 8:19; 14:7). Melihat Dia berarti telah melihat Tuhan (12:45; 14:9) Percaya kepadaNya adalah sama dengan percaya kepada Tuhan (12:44; 14:1). Menerima Dia berarti menerima Tuhan (Markus 9:37). Membenci Dia berarti membenci Tuhan (Yohanes 15:23). Menghormati Dia berarti menghormati Tuhan. (5:23).

Yesus Kristus - Bukan Iman yang Buta

"Ketika kita menghadapi klaim-klaim tentang Kristus, hanya ada empat kemungkinan. Dia adalah seorang pembohong, seorang yang sangat fanatik, seorang yang menjadi legenda, atau Kebenaran."

Ketika kita menghadapi klaim-klaim tentang Kristus, hanya ada 4 kemungkinan. Dia adalah seorang pembohong, seorang yang sangat fanatik, seorang yang menjadi legenda, atau Kebenaran. Jika kita berpikir bahwa Dia bukanlah Kebenaran, kita secara otomatis menegaskan satu atau ketiga altenatif yang lainnya, dengan kita sadari atau tidak.

(1) Satu kemungkinan adalah Yesus berbohong ketika Dia mengatakan bahwa Dia adalah Tuhan--bahwa Dia tahu bahwa Dia bukanlah Tuhan, namun dengan sengaja menipu pendengarnya untuk mendapatkan otoritas untuk pengajaranNya. Jarang sekali, jika ada, seseorang dengan serius memegang keyakinan ini. Bahkan bagi mereka yang menolak penegasan ketuhananNya bahwa Dia adalah seorang guru moral yang hebat. Mereka tidak menyadari bahwa kedua pernyataan tersebut adalah sebuah pertentangan. Yesus besar kemungkinan adalah seorang guru moral yang hebat jika, pada poin paling krusial dari pengajaranNya -- IdentitasNya -- Dia adalah seorang pembohong.

(2) Seorang yang baik hati, walaupun tidak ada kemungkinan yang sedikit tidak mengejutkan, adalah bahwa Dia adalah seorang yang tulus hatinya, namun hanya merupakan penipuan diri. Kita memiliki satu sebutan saat ini untuk seseorang yang berpikir bahwa dia adalah Tuhan. Sebutan tersebut adalah fanatik, dan tentu saja akan dilekatkan pada Kristus jika Dia telah tertipu dengan semua persoalan-persoalan penting ini. Namun ketika kita melihat kehidupan Kristus, kita tidak melihat bukti adanya keabnormalan dan ketidakseimbangan pada seorang gila. Sebaliknya, kita menjumpai ketenangan terbesar dalam menghadapi tekanan.

(3) Alternatif ketiga adalah semua pembicaraan tentang klaimNya sebagai Tuhan adalah sebuah legenda--apa yang sebenarnya terjadi adalah pengikut-pengikutNya yang antusias, pada abad ketiga dan keempat, menaruh kata-kata pada mulutNya yang akan mengejutkan untuk didengar. Jika Dia kembali, Dia tidak akan mau mengakui mereka.

Teori legenda telah secara signifikan dibuktikan salah oleh penemuan-penemuan arkeologi modern. Hal ini telah menyimpulkan bahwa keempat biografi Kristus ditulis semasa dengan Kristus. Beberapa waktu yang lalu Dr. William F. Albright, seorang arkeolog terkenal yang sekarang telah pension dari Universitas John Hopkins, mengatakan bahwa tidak ada alas an untuk percaya pada Injil-Injil yang ditulis setelah tahun 70 M. Untuk sekedar suatu legenda tentang Kristus, dalam bentuk Injil, untuk menyebarkannya dan mendapatkan dampaknya, tanpa secarik fakta dasar, adalah tak dapat dipercaya.

Hal ini akan menjadi hal yang fantastis untuk seseorang pada masa kita, untuk menulis biografi terbaru dari John F. Kennedy dan mengatakan bahwa dia mengklaim diri sebagai Tuhan, mengampuni dosa-dosa orang, dan bangkit dari kematian. Suatu cerita liar seperti itu tidak akan pernah terangkat ke permukaan karena masih ada terlalu banyak orang-orang sekitaryang mengenal Kennedy. Teori legenda tidak mempunyai dasar dalam masa awal penulisan tulisan-tulisan Injil.

(4) Alternatif lain hanyalah bahwa Yesus mengatakan kebenaran. Dari satu sudut pandang, bagaimanapun juga, klaim-klaim tidak bermaksud banyak. Berbicara itu murah. Siapapun dapat membuat klaim. Telah ada yang lain juga mengklaim diri sebagai Tuhan. Saya dapat mengklaim diri sebagai Tuhan, dan Saudara dapat mengklaim sebagai Tuhan, namun pertanyaan kita semua yang harus dijawab adalah, "Mandat apa yang kita bawa untuk membenarkan klaim kita?" Hal itu mungkin tidak akan berbuat banyak hanya untuk mengalahkan klaim-klaim Saudara. Namun ketika hal itu sampai pada Yesus dari Nazaret, hal itu bukanlah hal yang mudah. Dia memiliki mandate-mandat untuk mendukung klaim-klaimNya. Dia berkata, "tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa" (Yohanes 10:38)

Apakah Yesus itu adalah Tuhan? Beberapa Poin untuk Dipertimbangkan.

Pertama, karakter moralNya tepat dengan klaim-klaimNya. Banyak penghuni rumah sakit jiwa mengklaim diri menjadi selebritis atau dewa-dewa. Namun klaim-klaim mereka diingkari oleh karakter-karakter mereka. Lain halnya dengan Kristus. Dia unik -- seunik Tuhan.

Yesus Kristus tidak berdosa. Tingkat kecakapan hidupNya begitu tinggi sampai Dia mampu untuk menantang musuh-musuhNya dengan pertanyaan, "Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa?" (Yohanes 8:46). Dia hanya diam, walaupun Dia dituduh oleh mereka yang ingin menunjuk pada suatu noda dalam karakterNya.

Kita membaca godaan-godaan yang dialami Yesus, namun kita tidak pernah mendengar suatu pengakuan dosa dariNya. Dia tidak pernah meminta pengampunan, walaupun Dia mengatakan pada para pengikutNya untuk melakukannya.

Sedikitnya kegagalan moral Yesus sangat mengejutkan dipandang dari sudut fakta bahwa sangatlah bertentangan untuk mendapati orang-orang suci dan para penganut ilmu kebatinan sekaligus pada kondisi apapun juga. Semakin dekat orang kepada Tuhan, semakin sadar mereka dengan kegagalan, kecurangan, dan kelemahan mereka. Semakin dekat seseorang kepada cahaya yang bersinar, semakin dia menyadari kebutuhannya untuk mandi. Hal ini juga berlaku untuk bidang moral dan berlaku untuk semua makhluk.

Kenyataan yang sangat menempelak juga bahwa Yohanes, Paulus, dan Petrus, mereka semua yang diajar sejak kecila untuk percaya dalam keuniversalan dosa, mereka semua berbicara tentang ketidakberdosaan Kristus: "Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya" (1 Petrus 2:22)

Pilatus, yang bukanlah teman Yesus berkata, "Kejahatan apakah yang telah Dia lakukan?" Dia mengenali ketidakberdosaan Kristus secara implisit. Dan seorang Prajurit Romawi yang menyaksikan kematian Kristus berkata, "Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah." (Matius 27:54)

Kedua, Kristus mendemonstrasikan suatu kekuatan atas kekuatan alam yang hanya dimiliki oleh Tuhan, penulis kekuatan-kekuatan ini.

Dia menenangkan suatu badai yang mengamuk yang berupa angina dan ombak di Danau Galilea. Dengan melakukannya Dia memicu orang-orang yang ada di perahu dengan pertanyaan yang mempesona, "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?" (Markus 4:41). Dia mengubah air menjadi anggur, memberi makan 5000 orang dengan lima roti dan dua ikan, mengembalikan putra tunggal seorang janda yang sedang berkabung dengan membangkitkan putranya itu dari kematian, dan menghidupkan kembali seorang anak perempuan dari seorang ayah yang sedang hancur hati. Kepada seorang sahabat lamaNya Dia berkata, "Lazarus, marilah keluar!" dan secara dramatis membangkitkan dia dari antara orang mati. Sangatlah penting bahwa musuh-musuhNya tidak menyangkal mujizat ini. Sebaliknya, mereka mencoba membunuhNya. "Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita" (Yohanes 11:48)

Ketiga, Yesus mendemonstrasikan kekuatan Sang Pencipta melalui sakit penyakit. Dia membuat orang lumpuh berjalan, orang bisu berbicara, dan orang buta melihat. Beberapa penyembuhanNya merupakan cacat-cacat bawaan dari lahir yang tidak mungkin ditangani dengan penanganan ilmu kejiwaan. Yang paling menonjol adalah orang buta yang tercatat di Yohanes pasal 9. Walaupun orang (buta) itu tidak dapat menjawab para penanyanya yang spekulatif, pengalamannya cukup utnuk meyakinkannya. "Tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat." Serunya. Dia sangat heran bahwa teman-temannya tidak mengenali Penyembuh ini sebagai Putra Tuhan. "Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta," katanya (Yohanes 9:25, 32)

Keempat, bukti tak terbantahkan dari Yesus untuk membuktikan klaim ketuhananNya adalah kebangkitanNya dari kematian. Lima kali dalam hidupNya Dia memprediksi bahwa Dia akan mati. Dia juga memprediksi bagaimana caranya Dia akan mati dan bahwa tiga hari kemudian Dia akan bangkit dari kematian dan menampakkan diri kepada murid-muridNya.

Hal ini benar-benar pengujian yang terbesar. Itu adalah suatu klaim yang mudah dibuktikan. Terjadi atau tidak.

Baik teman-teman dan musuh-musuh dari Iman Kristen telah mengakui kebangkitan Kristus sebagai pondasi iman. Paulus, seorang Rasul yang luar biasa, menulis, "Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu" (1 Korintus 15:14) Paulus meletakkan semuanya pada kebangkitan tubuh Kristus. Baik Dia bangkit atau tidak. Jika benar, hal itu merupakan kejadian paling sensasional sepanjang sejarah.

Tuhan Tidak Meminta Iman yang Buta

Jika Kristus bangkit, kita tahu dengan pasti bahwa Tuhan ada, seperti apakah Dia, dan bagaimana kita mungkin mengenal Dia dalam hubungan pribadi. Alam semesta memiliki arti dan tujuan, dan sangatlah mungkin untuk mengalami Tuhan yang hidup dalam kehidupan masa kini.

"Bicara itu murah. Setiap orang dapat membuat klaim-klaim. Tetapi ketika itu terjadi dengan Yesus dari Nazaret...Dia memiliki mandat untuk mendukung klaimNya."

Selain itu, jika Kristus tidak bangkit dari kematian, Kekristenan hanyalah suatu hal menarik yang patut dimuseumkan -- tidak lebih. Kekristenan tidak memiliki validitas maupun realitas. Walaupun Kekristenan adalah suatu pemikiran baik yang penuh dengan harapan, namun tidak akan berarti apapun untuk diangkat lebih lagi. Para martir yang bernyanyi kepada para Singa dan misionaris modern yang memberikan hidup mereka di Ekuador dan Kongo, sementara pesan kebangkitan ini disampaikan pada orang-orang, hanyalah orang-orang bodoh yang tertipu.

Serangan terhadap iman Kristen oleh musuh-musuhnya paling sering terpusat di masalah Kebangkitan karena merupakan kejadian yang terpenting. Satu serangan hebat adalah dari kisaran tahun 1930an oleh seorang pengacara muda dari Inggris. Dia telah diyakinkan bahwa Kebangkitan hanyalah dongeng dan khayalan. Merasa bahwa hal itu merupakan pondasi Iman Kristen, dia memutuskan untuk menyukakan dunia dan semua yang mengekspos penipuan dan tahayul ini. Sebagai seorang pengacara, dia merasa bahwa dia memiliki kemampuan kritis pada penyelidikan-penyelidikan yang kaku, dan tidak memberi tempat pada bukti yang yang tidak memenuhi criteria kaku untuk diterima pada sebuah pengadilan modern.

Bagaimanapun juga, ketika Frank Morrison sedang melakuakn risetnya, sesuatu yang luar biasa terjadi. Masalahnya tidak semudah yang dia bayangkan. Hasilnya, bab pertama dalam bukunya, Who moved the Stone? (Siapa yang Memindahkan Batunya?) berjudul, "The Book That Refused to Be Written" (Buku yang Menolak untuk Ditulis). Di dalamnya dia menggambarkan bagaimana ketika dia sedang memeriksa bukti-buktinya, dia diyakinkan melawan keinginannya sendiri pada fakta kebangkitan tubuh Kristus.

Kematian Yesus

Kematian Yesus adalah dengan eksekusi pada sebuah salib di depan umum. Pemerintah mengatakan hal itu karena penghujatan. Yesus berkata itu untuk membayar dosa kita. Setelah dianiaya dengan kejam, pergelangan tangan dan kaki Yesus dipaku pada salib dimana Dia tergantung. Sebilah pedang ditusukkan ke tubuhNya untuk memastikan kematianNya.

Jenazah Yesus kemudian dibungkus dalam kain linen yang dibubuhi kira-kira 50 Kg rempah-rempah. JenazahNya ditempatkan pada suatu kubur dari batu padat, dengan suatu tutup kubur batu berupa sebongkah batu dengan berat kira-kira 1, 5-2 ton demi menutup pintu kubur. Karena Yesus telah mengumumkan bahwa Dia akan bangkit dalam 3 hari, sepasukan Romawi yang terlatih ditempatkan untuk menjaga kubur itu. Dan suatu segel resmi Romawi telah diterakan pada pintu masuk kubur untuk menyatakannya sebagai milik negara.

Namun, tiga hari kemudian jenazah itu telah hilang. Yang tersisa hanyalah kain kafan yang tercetak seperti tubuh manusia. Sebongkah batu yang telah menjadi penutup kubur telah dipindahkan.

Apakah Kebangkitan Yesus Hanyalah Sebuah cerita?

Penjelasan awal yang beredar adalah bahwa para murid-muridNya mencuri tubuhNya! Dalam Matius 28:11-15, kita memiliki catatan mengenai reaksi para imam kepala dan pemimpin, ketika para penjaga mengabarkan kepada mereka suatu berita yang memancing kemarahan dan misterius bahwa jenazah Yesus telah hilang. Mereka membayar para prajurit agar mengatakan bahwa para murid telah mencuri mayatNya pada waktu malam, ketika mereka semua tertidur. Cerita tersebut begitu terlihat kepalsuannya sehingga Matius bahkan tidak merasa perlu untuk menyangkalnya! Apa yang hakim akan dengar dari Saudara jika Saudara berkata tetangga Saudaralah yang mencuri TV Saudara ketika Saudara tertidur? Siapa yang tahu apa yang terjadi ketika Saudara tertidur? Kesaksian seperti ini akan ditertawakan pada semua jenis pengadilan.

Lebih jauh lagi, kita dihadapkan dengan kemustahilan psikologis dan etis. Mencuri mayat Yesus adalah sesuatu yang sangat bertentangan dengan sifat-sifat para murid dan semua yang kita tahu tentang mereka. Hal itu akan berarti mereka adalah para pelaku suatu kebohongan yang disengaja, yang bertanggung jawab untuk penipuan dan kematian ribuan orang. Sangat tidak dapat dibayangkan bahwa, bahkan jika beberapa murid-muridNya telah bersekongkol dan melakukan pencurian ini, mereka tidak akan pernah bercerita pada yang lain.

Setiap murid menghadapi ujian berupa penganiayaan dan kesyahidan untuk pernyataan dan iman ini. Pria dan wanita akan mati untuk apa yang mereka percayai sebagai kebenaran, walaupun itu mungkin palsu. Mereka tidak mati untuk sesuatu yang mereka ketahui sebagai suatu kebohongan. Jika seseorang mengatakan kebenaran, saat itulah waktu kematiannya tiba. Dan jika para murid telah mengambil mayat Yesus, dan Kristus tetap mati, kita akan tetap memiliki masalah dalam menjelaskan penampakanNya.

Hipotesis kedua adalah bahwa pihak otoritas setempat, Orang Yahudi maupun Romawi, memindahkan mayatNya! Tapi mengapa? Dengan menempatkan penjaga pada kubur, apa alas an mereka untuk memindahkan mayat Yesus? Juga, bagaimana dengan sikap diam pihak otoritas di hadapan khotbah para rasul yang penuh keberanian tentang Kebangkitan di Yerusalem? Para pemimpin agama menghadapinya dengan penuh kemarahan, dan melakukan segala cara untuk mencegah tersebarnya berita bahwa Yesus bangkit dari kematian. Mereka menangkap Petrus dan Yohanes lalu menghajar dan mengancam mereka agar tutup mulut.

Namun, ada satu solusi sederhana untuk masalah mereka. Jika mereka memiliki mayat Yesus, mereka dapat mempertunjukkannya sepanjang jalanan Yerusalem. Dengan satu langkah mereka akan menghambat Kekristenan di tempat kelahirannya. Bahwa mereka tidak melakukannya melahirkan kesaksian yang sangat mengesankan pada fakta bahwa mereka tidak memiliki mayatNya.

Teori popular yang lain adalah bahwa kaum wanita, dibingungkan oleh dukacita, salah mengambil jalan dalam keremangan suasana pagi dan pergi ke kubur yang salah. Dalam kesedihan, mereka membayangkan Kristus telah bangkit karena kuburNya telah kosong. Teori ini, bagaimanapun juga, gugur di hadapan fakta yang sama yang menghancurkan teori sebelumnya. Jika kaum wanita perfi ke kubur yang salah, mengapa para imam kepala dan musuh-musuh lain dari iman tidak pergi ke makam yang benar dan mengeluarkan mayatNya? Lebih jauh, sangatlah tidak terbayangkan bahwa Petrus dan Yohanes akan jatuh pada kesalahan yang sama, dan tentu saja, Yusuf Arimatea, sang pemiliki kubur, akan menyelesaikan masalahnya. Sebagai tambahan, perlu diingat bahwa kubur itu adalah suatu lahan pekuburan pribadi, bukan pemakaman umum. Tidak ada kubur terdekat yang akan membuat mereka membuat kesalahan ini.

Teori Pingsan juga diajukan untuk menjelaskan kubur yang kosong. Pada sudut pandang ini, Kristus tidak benar-benar mati. Dia secara keliru dilaporkan telah mati, namun hanya pingsan karena kelelahan, rasa sakit, dan kehilangan darah. Ketika Dia dibaringkan pada dinginnya makam, dia bangkit. Dia keluar dari kubur dan menampakkan diri kepada murid-muridNya, yang secara keliru berpikir Dia telah bangkit dari kematian.

"Laki-laki dan wanita akan mati untuk apa yang mereka percayai itu benar, walaupun sebenarnya itu mungkin salah. Tetapi mereka tidak mati untuk sesuatu yang mereka tahu sebagai sebuah kebohongan."

Ini adalah suatu teori buatan zaman modern. Teori ini muncul pada akhir abad ke-18. Sangatlah signifikan bahwa bukanlah suatu saran dari jenis teori ini yang telah gugur dari rentetan semua serangan keras yang dibuat untuk Kekristenan. Semua catatan-catatan terawal menegaskan kematian Yesus.

Namun, marilah kita menerima untuk sejenak bahwa Kristus telah dikuburkan dalam keadaan hidup dan hanya pingsan. Sangatlah mungkin untuk percaya bahwa Dia telah bertahan hidup tiga hari dalam kelembaban suatu kubur tanpa makanan dan air atau apapun? Akankah Dia memiliki tenaga untuk melepaskan diriNya sendiri dari kain kafan, mendorong sebongkah batu yang sangat berat dari mulut kubur, menghadapi para penjaga Romawi, dan berjalan bermil-mil dengan kaki yang telah ditusuk dengan paku? Kepercayaan seperti itu jauh lebih fantastis daripada fakta sederhana mengenai Kebangkitan itu sendiri.

Bahkan kritikus Jerman, David Strauss, yang percaya pada Kebangkitan tanpa suatu tujuan tertentu, menolak ide ini sebagai sesuatu yang tidak dapat dipercaya. Dia berkata:

Mustahil bahwa Seseorang yang baru saja keluar dari kubur dalam keadaan setengah mati, yang merangkak dalam keadaan lemah dan sakit, yang memerlukan perawatan medis, perban, penguatan, dan perawatan khusus, dan pada akhirnya menderita, dapat memberi para murid kesan bahwa Dia adalah seorang penakluk atas kematian dan kubur; bahwa Dia adalah Pangeran Kehidupan.

Pada akhirnya, jika teori ini benar, Kristus sendiri terlibat dalam kebohongan yang sangat menyolok. Murid-muridNya percaya dan berkhotbah bahwa Dia telah mati namun hidup kembali. Yesus tidak melakukan apapununtuk menyingkirkan kepercayaan ini, namun justru medukungnya.

Teori yang paling layak untuk menjelaskan kubur kosong adalah kebangkitan Yesus Kristus dari kematian.

Lebih dari Iman yang Buta, Kemampuan untuk Mengenal Tuhan

Jika Yesus Kristus bangkit dari kematian, dengan demikian membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan, Dia hidup sampai hari ini. Dia ingin lebih dari sekedar disembah. Dia ingin dikenal dan dating dalam hidup kita. Yesus berkata, "Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku." (Wahyu 3:20)

Pernyataan Carl Gustav Jung yang baru mengatakan, "Pusat neurosis dari masa kita adalah kekosongan." Kita semua memiliki suatu kerinduan mendalam dalam hidup kita untuk berarti. Yesus menawarkan suatu hidup yang lebih berarti dan berkelimpahan, yang datang melalui suatu hubungan denganNya. Yesus berkata, "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." (Yohanes 10:10)

Karena Yesus telah mati di kayu salib, demi menebus semua dosa umat manusia, Dia sekarang menawarkan kepada kita pengampunan, penerimaan, dan suatu hubungan sejati denganNya.

Sekarang Saudara dapat mengundang Yesus Kristus datang dalam hidup Saudara. Saudara dapat berkata kepadaNya dengan kata-kata seperti, "Yesus, terima kasih untuk kematianMu di kayu salib demi dosa-dosaku. Sekarang saya meminta Engkau untuk mengampuni dan datang dalam hidupku. Terima kasih untuk memberi saya suatu hubungan dengan Engkau."

Jika Saudara memerlukan informasi lebih lanjut atau masih memiliki pertanyaan-pertanyaan mengenai siapakah Yesus itu, silahkan kirim emai kepada kami.

 Saya telah mengundang Yesus masuk ke dalam hidup saya ... (informasi berikutnya)
 Saya masih ragu-ragu, tolong jelaskan lebih lanjut...
 Saya ada pertanyaan...

Diadaptasi dari Know Why You Believe (Mengerti Mengapa Saudara Percaya) oleh Paul E. Little, diterbitkan oleh Victor Books, hak cipta © 1988, SP. Publication, Inc., Wheaton, IL 60187. Digunakan dengan seijin pengarang.

BAGIKAN ARTIKEL INI:  

TOP